Tour Malang – Menjelajahi museum Kota Malang memberi cara berbeda untuk mengenal kota selain berjalan di kawasan heritage atau berburu kuliner. Dalam satu perjalanan, kamu bisa berpindah dari sejarah perjuangan menuju kerajaan kuno, arsip musik, pendidikan, perkembangan kendaraan, hingga living history.
Namun, konsep city walk dalam artikel ini bukan berarti ketujuh museum harus ditempuh seluruhnya dengan berjalan kaki. Beberapa berada di Klojen dan kawasan Universitas Negeri Malang, sedangkan lainnya tersebar hingga Lowokwaru dan Tlogowaru. Lebih realistis menggabungkan jalan kaki dengan perpindahan kendaraan singkat.
Museum Brawijaya

Credit: Telurusi ID
Museum Brawijaya menjadi pembuka yang kuat karena berada di Jalan Ijen, salah satu koridor bersejarah Kota Malang. Koleksinya meliputi senjata, kendaraan militer, foto, perlengkapan perang, hingga Gerbong Maut yang berkaitan dengan pemindahan tawanan pejuang dari Bondowoso pada 1947.
Penyajiannya memang lebih konvensional dibanding museum interaktif modern, tetapi justru benda asli menjadi kekuatan utamanya. Setelah berkunjung, kamu dapat melanjutkan berjalan di kawasan Ijen. Jika ingin menikmati koleksi dengan nyaman, datang lebih awal karena jam kunjung museum relatif terbatas.
Museum Mpu Purwa

Credit: Lumajang Satu
Dari perjuangan abad ke-20, perjalanan sejarah dapat kamu lihat jauh ke belakang melalui Museum Mpu Purwa. Museum ini menyimpan benda arkeologi yang berkaitan dengan perjalanan kawasan Malang sejak masa Kanjuruhan, Mataram Kuno, hingga Singhasari.
Prasasti Dinoyo II, Prasasti Muncang, arca Ganesha, dan berbagai peninggalan batu membantu memperlihatkan bahwa sejarah Malang tidak dimulai pada masa kolonial. Skalanya tidak terlalu besar, sehingga tempat ini lebih cocok untuk kunjungan fokus daripada membayangkan museum arkeologi yang membutuhkan waktu seharian.
Baca Juga: 7 Aktivitas Seru Saat Liburan di Malang yang Wajib Dicoba
Museum Musik Indonesia

Credit: Tripadvisor
Masih di kawasan Griyashanta, Museum Musik Indonesia memberi perubahan tema yang cukup drastis. Koleksinya mencakup kaset, piringan hitam, CD, majalah, poster, dokumentasi musisi, hingga alat musik dari Indonesia dan berbagai negara.
Kekuatan museum ini berada pada kepadatan arsip yang memperlihatkan perjalanan musik melalui benda sehari-hari. Ruangnya tidak semegah museum besar, tetapi penggemar musik dapat menghabiskan waktu mengamati format rekaman dan dokumentasi antargenerasi. Sebaiknya cek alamat dan jadwal terbaru sebelum berangkat karena museum pernah berpindah lokasi.
Museum Pendidikan Kota Malang

Credit: Budaya Kita
Museum Pendidikan di Tlogowaru membawa nostalgia ke benda yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bangku sekolah, sabak, buku lama, mesin tik, permainan tradisional, sepeda, hingga berbagai alat pendidikan memperlihatkan perubahan cara belajar dari masa ke masa.
Museum ini lebih cocok kamu jadikan short educational stop daripada agenda berjam-jam. Lokasinya juga cukup jauh dari klaster museum pusat kota, sehingga gunakan kendaraan untuk mencapainya. Dengan begitu, tenaga tidak habis hanya untuk mengejar konsep city walk secara literal.
Baca Juga: 5 Wisata Hits Malang Raya yang Wajib Kamu Kunjungi
Museum Pembelajaran Universitas Negeri Malang

Credit: Universitas Negeri Malang
Museum Pembelajaran UM mempunyai fokus yang lebih spesifik pada sejarah pendidikan tinggi. Koleksinya mengikuti perjalanan lembaga sejak PTPG Malang pada 1954, kemudian IKIP, hingga berkembang menjadi Universitas Negeri Malang.
Kamu dapat melihat media pembelajaran lama, dokumen, benda milik rektor, hingga perangkat yang pernah digunakan dalam kegiatan akademik. Gedung A14 juga memiliki sejarah tersendiri karena dibangun pada 1958. Karena berada di kompleks kampus, konfirmasi jam dan prosedur kunjungan sebelum datang.
Museum Motor Klasik

Credit: SMK NMC
Setelah sejarah pendidikan, Museum Motor Klasik menawarkan cerita tentang perubahan mobilitas. Sekitar 400 motor dari rentang produksi 1930-an hingga 1990-an memungkinkan pengunjung membandingkan perubahan bentuk, teknologi, dan gaya kendaraan secara langsung.
Daya tariknya memang lebih niche, terutama bagi penggemar otomotif. Namun, menempatkannya sebagai sejarah transportasi membuat museum tetap relevan dalam perjalanan bertema kota. Jangan hanya melihat motor sebagai barang koleksi, perhatikan bagaimana desain kendaraan berubah mengikuti kebutuhan masyarakat pada zamannya.
Museum Reenactor Ngalam

Credit: Antara Foto
Museum Reenactor Ngalam menjadi penutup paling tidak konvensional. Koleksinya banyak berupa replika seragam, senjata, dan perlengkapan yang dibuat untuk kegiatan historical reenactment, terutama berkaitan dengan Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan.
Karena itu, pengalaman di sini berbeda dari Museum Brawijaya yang mengandalkan artefak sejarah. Replika digunakan untuk membantu visualisasi dan simulasi masa lalu. Skalanya berbasis komunitas dan jam kunjungnya lebih terbatas, sehingga sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke rute.
Baca Juga: Paket Tour Malang 3 Hari 2 Malam
Tujuh museum tersebut memperlihatkan identitas Malang dari lapisan waktu yang berbeda. Brawijaya membawa cerita perjuangan, Mpu Purwa membuka masa kerajaan, Museum Musik masuk ke sejarah budaya populer, sementara dua museum pendidikan menunjukkan perubahan cara belajar.
Labiru Tour dapat membantu menyusun perjalanan sejarah di Malang dengan transportasi, penginapan, konsumsi, serta rute yang lebih realistis antarkawasan. Dengan kombinasi berjalan kaki dan kendaraan, museum-hopping dapat tetap terasa seperti eksplorasi kota tanpa membuat waktu habis di perjalanan.